Allahummaa solli alaa nabiya Muhammad Sallalahu alayhi wasalam..

View on Path

Iklan

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ , تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ (رواه الترمذي، رقم 586)

“Siapa yang shalat Shubuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian duduk dua rakaat, maka baginya pahala bagaikan pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmizi, no. 586)

View on Path

Sobat! Di bulan Ramadhan ini, setiap muslim memiliki tradisi baru yaitu menantikan detik-detik matahari terbenam yang menandai datangnya malam dan kepergian siang. Ada satu alasan Anda menantikan terbenamnya matahari, yaitu pada waktu itu Anda diizinkan untuk berbuka puasa.

Dan biasanya pula, untuk menyambut terbenamnya matahari ini, istri atau ibu anda menyiapkan menu makanan dan minuman yang lezaat. Terlebih lagi Anda menyantap hidangan dan minuman itu setelah sesiangan menahan rasa lapar dan dahaga. Padahal sepenuhnya Anda menyadari, tanpa Anda nantikan matahari pasti terbenam, dan tanpa istri atau ibunda mempersiapkan hidangan atau minuman, mentari pasti terbenam.

Anda bisa bayangkan, bagaimana perasaan Anda bila setelah penantian yang cukup melelahkan, Anda membuka tutup saji hidangan yang terletak di meja makan, ternyata Anda tidak menemukan secuil makanan dan setetes air minuman. Kira kira, apa dan bagaimana perasaan Anda? Kecewa, konyol, marah dan duka yang mendalam,…. Bukankah demikian?

Sobat! Kondisi di atas sejatinya adalah ilustrasi sederhana tentang ajal yang saat ini tidak anda nantikan namun pasti datang menjemput Anda. Saat ini, selama Anda menjalani kehidupan di dunia, sejatinya Anda sedang berpuasa, menahan diri dari berbagai kenikmatan yang menanti Anda di surga kelak.

Kehidupan dunia ini bagaikan puasa yang saat ini Anda jalankan, dan tidak lama lagi mentari kehidupan Anda pastilah berakhir dan terbenam. Namun sudahkah Anda menyiapkan hidangan lezat dan minuman segar yang akan Anda santap setelah Anda memejamkan mata kehidupan di dunia dan membuka mata di kehidupan di akhirat?

Bila ibadah puasa dengan menahan diri dari kenikmatan dunia menjadikan Anda dan keluarga Anda sadar untuk menyiapkan sajian berbuka, maka mengapa selama ini perintah Allah kepada anda untuk menahan diri dari syahwat dan kenikmatan haram seakan belum menggugah Anda dari kelalaian panjang dari menyiapkan sajian untuk berbuka di akhirat kelak? Mungkinkah Anda lebih siap untuk menahan rasa kecewa dan duka yang akan menimpa Anda ketika kelak membuka mata di alam kubur, melebihi kesiapan anda untuk menahan kecewa dan duka karena setelah mentari dunia terbenam Anda tidak menemukan secuil hidangan atau setetes minuman?

Renungkan baik baik sobat! Dan simak firman Allah Ta’ala berikut, semoga Anda segera terjaga dari kelalaian Anda yang telah berkepanjangan:

)أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ(
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16 )

👤 Ust. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

View on Path

Pertanyaan pertama, apa yang paling jauh? Tentu bukan tempat, benda langit atau lainnya. Tapi menurut Imam Al Ghazali, yang paling jauh yaitu masa lalu.

Kok bisa masa lalu? Masa lalu, meskipun sedetik yang lalu jika sudah berlalu kita tidak akan pernah bisa menuju ke sana. Jika ukuran jauh karena jarak, pasti kita masih bisa menuju ke sana. Masa lalu tidak akan bisa.

Apa pesan yang ingin disampaikan oleh Imam Al Ghazali? Jawabannya adalah waktu. Jangan pernah sia-siakan waktu karena jika sudah berlalu tidak akan pernah bisa diraih lagi. Imam Ali r.a pernah berucap “harta yang luput hari ini masih bisa saya raih besok, tapi waktu yang berlalu hari ini takkan bisa diraih lagi sampai kapanpun”. Rasulullah juga mengingatkan kita “ ada dua hal yang sering diabaikan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang”. Apalagi Allah melalui Al Qur’an yang menyeru “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati dalam kesabaran”. Pertanyaan kedua, apa yang paling dekat? Kata Imam Al Ghazali yang paling dekat adalah kematian.

Kok bisa kematian? Salah satu hal yang misterius dalam kehidupan kita yaitu kematian. Tak ada yang tahu kapan ajalnya tiba. Ada yang usianya pendek, banyak juga yang sedang dan panjang. Begitu misteriusnya, tak bisa diukur jaraknya. Dia pasti datang dan tidak ada yang bisa lari darinya. Jadi dia sangat dekat.

Apa nasehat dari pertanyaan kedua ini? Mari selalu ingat mati. Semoga dengan mengingat mati kita menjadi semangat menjalani kehidupan. Semangat karena kita yakin dunia ini akan kita tinggalkan. Jika kelak memang kita tinggalkan, kita ingin dikenang sebagai orang yang baik, bukan orang yang buruk. Kemudian dengan mengingat mati, kita jadi semakin rindu dan cinta pada Allah. Rindu ingin bertemu dengan Allah dengan mempersembahkan yang terbaik pada-Nya. Wajar saja jika Rasulullah pernah berucap” orang yang paling cerdas yaitu mereka yang ingat mati”. Cerdas dalam bersikap, berpikir dan berbuat karena semua diperhitungkan jangka panjang dunia dan akhirat.

View on Path